DUNIA TIDAK LAYAK DITANGISI



Jom baca....

Kebahagiaan seseorang akan semakin bertambah, berkembang dan mengakar apabila ia mampu mengabaikan semua perkara yang remeh dan tidak  berguna. Kerana, orang yang berkeinginan tinggi adalah orang yang lebih memilih kepada akhirat.

Telah berwasiat salah seorang daripada ulama salaf kepada saudaranya: 

“Jadikanlah keinginanmu itu kepada satu arah sahaja, yakni keinginan bertemu dengan Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisiNya.

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.” (Al-Haqqah: 18)

Tiada keinginan yang lebih mulia selain keinginan yang tersebut. Apalah ertinya sebuah keinginan yang hanya bertumpu kepada kehidupan ini sahaja. 
Kerana, semuanya itu hanya akan bermuara kepada keinginan untuk meraih kedudukan, jawatan, emas, perak, anak-anak, harta-benda, nama besar dan kemasyhuran, istana-istana dan rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan lenyap.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggambarkan sifat-sifat musuhNya, yakni kaum munafik, sebagaimana yang tersebut di dalam surah Ali-‘Imran, ayat 154:

“Sedangkan yang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah….”

Begitulah, mereka hanya berkeinginan memuaskan nafsu, perut dan syahwat mereka, dan mereka pun tiada memiliki keinginan yang lebih tinggi dari itu.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang membaiat para sahabat di bawah suatu pohon, terdapat seorang munafik yang justeru meninggalkan bai’at itu untuk mencari untanya yang berwarna merah. Dan orang itu berkata: “Aku akan lebih berbahagia sekiranya aku dapat menemui untaku daripada aku turut serta berbai’at sepertimana yang kalian lakukan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata:

“Semua orang di antara kalian diampuni, kecuali pemilik unta merah itu.”

Sesungguhnya orang munafik bukan sahaja ingin menyesatkan dirinya sendiri, tetapi juga seringkali mengajak para sahabatnya yang lain. Misalnya, mereka pernah berkata: “Janganlah kalian berangkat perang pada saat panas terik begini.” Maka Allah menempelak mereka seraya berfirman:

“…katakanlah: ‘Api neraka jahannam itu jauh lebih panas.’ …..” (At-Taubah: 81)

Orang munafik yang lain berkata:

“…berikan saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah…” (At-Taubah: 49)

Itulah orang munafik; hanya memikirkan keuntungan peribadinya sahaja, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah At-taubah, ayat 49:

“…ketahuilah, bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah…”

Selain itu, orang munafik sering mementingkan harta dan keluarganya sahaja di mana mereka pernah berkata, sebagaimana di dalam surah Al-Fath, ayat 11:

“…harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah keampunan bagi kami…”

Sesungguhnya, semua keinginan mereka itu hanyalah keinginan yang remah dan tidak bernilai. Dan keinginan seperti itu hanya akan dipeduli oleh orang-orang yang bodoh dan tidak berharga. Manakala para sahabat yang mulia, mereka selalu mengharapkan keutamaan dan keredhaan dari Allah.


-AMBIL IKTIBAR DARI KISAH INI !!

~ BONDE SENTIASA SENYUM RIANG :p ~

Catat Ulasan

0 Ulasan